Dihari itu di hari kamis 8 Januari 2015, mungkin sebuah foto sudah dapat menggambarkan suasana. Sebuah aktivitas tanda tangan yang bukan hanya tanda tangan biasa, disaksikan seluruh anggota UKM Stikomusic di belakang saya yang kebetulan tidak masuk di jepretan foto, kemudian sebelah saya mantan ketua UKM Stikomusic (mas Dachna Micka) yang baru saja menyelesaikan semua amanahnya, dan di depan saya terpampang guru, dosen, motivator, bahkan sudah saya anggap seperti bapak sendiri, bapak Erwin Sutomo yang memang pada saat itu saya belum begitu mengenal beliau. Ekspresi nervous pada saat itu sangat terpampang jelas, karena memang pada dasarnya saya bukan orang yang bisa berdiri tegak di depan banyak orang, bukan seorang pembicara atau bahkan narasumber yang secara santai dapat berceramah didepan banyak orang. Saya hanya seseorang yang memang anti dan sangat menghindari berada di posisi tersebut, di saat ada di posisi itu, maka muncullah karakter saya yang sebenarnya, dengan kaki gemetar, bicara pun tak pernah tertata (nggak jelas) dan terasa aneh bagi para pendengar. Yah, mungkin itu sedikit yang bisa digambarkan dalam karakter saya dulu.
Hari itu adalah hari dimana saya secara resmi diangkat menjadi ketua UKM Stikomusic Surabaya, UKM yang selalu saya banggakan, UKM yang sampai saat ini memberikan banyak pelajaran bagi saya, dan suatu keluarga kecil yang mungkin bakal saya kenang selamanya. Sebetulnya saya tidak mengira hal ini bisa terjadi, memang sih saya sudah punya target waktu proses seleksi dan pencalonan ketua bahwa saya harus bisa jadi ketua Stikomusic untuk periode kedepan. Hanya saja target itu dan di saat itu pula saya menganggap kurang realistis karena memang saya merasa bekal untuk jadi ketua sangatlah banyak yang harus dipunyai, apalagi dengan persaingan di saat itu. Jujur saya minder dengan saingan-saingan saya yang memang sudah berlari jauh di atas saya. Bagi saya waktu itu masuk kriteria calon ketua sudah sangat bahagia walaupun seandainya saya gagal di pemilihan.
Saya selalu berfikir untuk jadi ketua harus terus belajar, terus cari bekal dan terus berusaha. Dan saya pernah punya statement kalau saya masih belum siap untuk jadi ketua karena masih belum punya bekal yang cukup. Di fikirin saya selalu terbayang jangan jadi ketua dulu, jadi pemimpin itu gak gampang, dimana-mana yang dijadikan biang kerok kesalahan sering kali itu pemimpin, bukan bawahan. Selalu pikiran seperti itu yang buat saya tak pernah percaya diri untuk bercita-cita jadi pemimpin.
Oh iya balik lagi ke momen setelah foto di atas tadi ya hehehe. Beberapa hari setelah foto di atas itu di ambil, saya mulai merasa bahwa statement di paragraf tiga itu sedikit tidak benar, saya malah merasa kalau lebih dapat banyak pelajaran setelah menjadi ketua, bukan di saat waktu belum menjadi ketua yang memang pada saat itu terus terusan ingin mengumpulkan bekal bisar bisa jadi ketua. Di beberapa bulan setelah diambilnya foto itu pula muncullah statement bahwa bukan hanya pelajaran organisasi yang saya terima, bukan hanya pelajaran pergaulan juga, tapi lebih ke pelajaran hidup dimana ada kalanya di saat saat seperti itu muncul kondisi yang memang menyenangkan bahkan kondisi buruk pun pernah terjadi dan kondisi buruk itulah yang memang saya anggap sangat berguna untuk pelajaran hidup saya sendiri. Kadang orang merasa "ngapain buat ambil resiko? mending cari jalan aman aja ga perlu neko-neko kalo ujung-ujungnya muncul masalah" tapi sebenarnya jika kita bisa nyelesain masalah itu sudah pasti otomatis menambah pengalaman bahkan skill kita sendiri buat nyelesain masalah atau biasa orang bilang problem solving skill. Intinya saya sangat banyak mendapat pelajaran berharga bahkan hidayah yang saya rasakan lansung yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Setelah itu pun saya berfikir kalau pengen jadi pemimpin itu jangan terus-terusan belajar, jangan terus terusan cari bekal, justru kalo udah ada kesempatan buat jadi pemimpin ya ambil saja, coba jadi pemimpin lah dulu baru bisa ngerasain gimana rasanya jadi pemimpin sesungguhnya. Sambil menyelam minum air, sambil jadi pemimpin sambil belajar juga 😊😊😊😊
Ojok terus-terusan belajar dadi pemimpin, dadio pemimpin sek baru awakmu isok belajar
Yah mungkin itu dulu ya, hari sudah mau ganti, saya sudah mulai ngantuk. Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan atau mungkin tidak menarik untuk dibaca. Tulisan di atas saya tulis di saat mata saya sudah mulai terpejam, tulisan di atas hanyalah beberapa paragraf curhatan saya yang mungkin ga perlu untuk di nilai hahahaha selamat malam 😘😗😀😄😂
Tidak ada komentar:
Posting Komentar